Tampilkan postingan dengan label Askep. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Askep. Tampilkan semua postingan
Asuhan Keperawatan pada Pasien Menopause

Asuhan Keperawatan pada Pasien Menopause

A. Pengertian Menopause

Menopause adalah masa yang bermula dari akhir masa reproduksi sampai awal masa senium , yaitu antara 40-65 thn ( 45-55 ). Bila terjadi dibawah 40 thn disebut klimaterium prekoks. Terbagi atas pramenepouse , mulai ada keluhan klimakterik),  masa menepouse sampai ( 3-5 )th setelah menepouse
( Arif mansjoer, 2007 )

Masa senium merupakan masa tercapainya keadaan keseimbangan hormonal yang baru, sehingga tidak ada lagi gangguan vegetatif maupun psikis.
(Hanifa Wiknjosastro,2007) 

Menopause adalah titik dimana menstruasi berhenti. Usia  rata-rata menopause ialah 51,4 tetapi 10% wanita berhenti menstruasi pada usia 40 dan 5% tidak berhenti menstruasi sampai usia 60. Menopause bedah terjadi akibat histerektomi bilateral.
(Bobak, 2005)

Menopause (klimakterik  atau “ perubahan kehidupan”) digambarkan sebagai penghentian fisiologis haid berhubungan dengan kegagalan fungsi ovarium, selama fungsi reproduktif menurun dan berakhir.
(Suzanne C smeltzer, 2002)
Kesimpulan :
Menopause adalah suatu proses fisiologis pada wanita yang ditandai dengan berhentinya menstruasi, biasanya terjadi pada usia 40 tahun yang bermula dari akhir masa reproduksi sampai awal masa senium.


B. Fisiologis  Menopause

Menopause adalah fenomena patologis tetapi merupakan bagian normal dari proses penuaan dan maturasi.  Menstruasi berhenti dan karena ovarium tidak lagi aktif, organ-organ reproduktif menjadi mengecil. Tidak ada lagi ovum yang matur; karenanya, tidak ada lagi hormon ovarium (estrogen) yang dihasilkan. (Menopause artifisial dapat terjadi lebih dini bila ovarium diangkat secara bedah atau mengalami kerusakan akibat radiasi.). Selain perubahan dalam sistem reproduktif yang mengurangi kadar estrogen, perubahan multi aspek juga terjadi diseluruh tubuh wanita. Perubahan ini termasuk neuroendokrinologis, biokimia dan perubahan metabolik yang berkaitan dengan penuaan.
(Suzanne C smeltzer, 2002) 

Menepouse terjadi pada wanita sewaktu ovariumnya tidak lagi berespon terhadap LH dan FSH dengan membentuk ekstrogen dan progesteron. Menopause biasanya terjadi antara usia 40 dan 50, dan dapat berlangsung selama 8-10 tahun. Selama proses monopouse yang panjang tersebut, terjadi perubahan-perubahan daur haid yang pada akhirnya berhenti.

Gejala-gejala monopouse disebabkan oleh tidak adanya ekstrogen. Gejala-gejala dapat berupa kemerahan pada kulit, ( host flushes ), sensasi dispnu ( sulit bernafas ), kelelahan, dan kadnag-kadang iritabilitas atau mudah emosional. Terjadi atrofi dan kekeringan vagina yang dapat menyebabkan hubungan kelamin terasa nyeri. Penurunan masa tulang dapat menimbulkan osteoporosis dan kulit menjadi kering. Etiologi dan mekanisme fisiologis pasti yang mendasari masih belum jelas. Sebagai respon terhadap penurunan fluktuatif konsentrasi estradiol, pusat termogulasi di dalam hipotalamus memicu vasodilatasi kulit dan berkeringat disertai meningkatnya suhu kulit sampai sebanyak 5°C.

Perlindungan ekstrogen terhadap penyakit arteri koroner  lenyap dan fungsi kognitif dapat berkurang. Karena banyaknya perubahan yang terjadi pada tubuh setelah ekstrogen berkurang.
(Corwin, 2009) 

Klimakterium mengacu pada periode kehidupan seorang wanita saat ia berpindah dari tahap reproduksi ketahap tidak reproduktif, disertai regresi fungsi ovarium.
(Bobak,2005)



C. Manifestasi Klinis Menopause

1. Gejala menopause:

a. Ketidakseimbangan vasomotor
Ketidaksetabilan vasomotor merupakan gangguan yang paling umum pada klimakterium. Wanita mengalami fase dilatasi dan konstriksi yang berubah-ubah, seperti warna kemerahan akibat panas ( flashes ) dan keringat malam . Kemerahan akibat panas merupakan sensasi  rasa hangat yang muncul tiba-tiba dengan durasi dan intesitas yang berfariasi dikepala,leher dan dada. Kemerahan ringan tak mengganggu aktivitas sehari-hari. Kemerahan moderat menyebabkan rasa tidak nyaman disertai peningkatan suhu yang dapat diukur dan pengeluaran keringat. Kemerahan berat menimbulkan rasa yang tidak nyaman disertai peningkatan suhu yang dapat diukur dan pengeluaran keringat.kemerahan berat menimbulkan rasa tidak nyaman yang ekstrim dan mengganggu aktivitas sehari-hari.

Kemerahan akibat panas dapat berlanjut selama beberapa bulan atau tahun. Beberapa faktor dapat mempresipitasi suatu episod, meliputi  ruangan yang hangat atau padat,konsumsi alkohol, minuman panas,makanan berbumbu, dan dekat kesumber panas.

Keringat malam merupakan bentuk lain ketidakstabilan vasomotor yang dialami oleh banyak wanita. Tidur terganggu setiap malam karena penutup tempat tidur dan linen menjadi basah. Banyak wanita mengeluh tidak mampu kembali tidur. Terapi penggantian estrogen (Ekstrogen replacement therapy [ERT]) direkomendasikan untuk meredakan gejala.

b. Gangguan Emosi
Perubahan mood, iritabilitas, ansietas dan depresi sering kali dihubungkan dengan perimenopause. Wanita secara emosional merasa lebih labil, gugup atau gelisah. Wanita sering kali menghubungkan perubahan mood serta iritabilitas klimakterium denngan perasaan yang mereka alami selama dan segera setelah hamil. Namun, proses biokomia yang mendasari variasi respon emosi pada masa klimakterium tidak diketahui.

Stres kehidupan setengah baya dapat memperburuk menopause. Menghadapi anak remaja, membantu orang tua yang lanjut umur, menjadi janda atau bercerai, dan berduka karena teman atau keluarga sakit atau menjelang ajal adalah beberapa bentuk stres yang meningkatkan masalah resiko emosional yang serius.
Kemampuan untuk mengatasi setiap stres melibatkan sekurang-kurangnya tiga faktor: persepsi individu atau pemahaman terhadap kejadian, sistem pendukung serta mekanisme koping. Dengan demikian perawat harus mengkaji seberapa banyak informasi tentang klimakterium yang dimiliki wanita tersebut , persepsinya tentang pengalaman pengalaman stres, siapa yang diandalkan untuk tempat bergantung dan meminta bantuan serta jenis-jenis ketrampilan kopingnya.

Pesan budaya juga mempengaruhi status emosi selama perimenopause. Banyak wanita mempersepsikan ketidakmampuan untuk mengandung sebagai suatu kenilaian yang bermakna. Orang lain melihat menopause sebagai langkah pertama untuk masuk keusia tua dan menghubungkannya dengan hilangnya kecantikan. Budaya barat menghargai masa muda dan kecantikan fisik, sementara orangtua menderita akibat kehilangan status, fungsi, serta peran. Wanita  yang mempersepsikan menopause sebagai waktu kehilangan  mungkin akan mengalami depresi.

Untuk wanita lain, menopause bukanlah suatu kehilangan, tetapi suatu kebebasan dari rasa takut terhadap menstruasi yang merepotkan dan rasa tidak nyaman akibat kontrasepsi. Terlepas dari pesan budaya yang kuat bahwa masa muda dihargai melebihi usia, wanita yang menghargai dirinya sendiri akan menyesuaikan diri dengan baik terhadap keadaan menopause. Rasa letih dan nyeri kepala adalah masalah umum lain, yang dialami selama menopause. Penyebab tidak diketahui

2. Gejala Pasca Menopause

a. Atrofi Genetalia dan Perubahan Seksualitas
Seiring dengan penurunan kadar estrogen, epitel  vagina menipis dan pH vagina meningkat sehingga timbul kekeringan, rasa terbakar, iritasi dan dispareunia. Pada wanita, penyusutan uterus, vulva dan bagian distal uretra menimbulkan gejala yang mengganggu meliputi; sering berkemih, disuria, stres inkontinensia.
Dispareunia (hubungan seksual yang menimbulkan rasa nyeri) terjadi karena vagina menjadi lebih kecil, dinding vagina menjadi lebih tipis dan lebih kering. Hubungan seksual dapat menyebabkan perdarahan pascacoitus dan wanita mungkin mengelak melakukan hubungan seksual.

Sering berkemih terjadi kadang karena bagian distal uretra, yang berasal dari bakal embrio yang sama dengan organ reproduksi, menyusut. Zat pengiritasi memiliki akses yang lebih mudah untuk masuk kedalam saluran kemih pada uretra yang lebih pendek sehingga individu lebih sering berkemih dan mengalami sistisis.

b. Osteoporosis
Osteoporosis adalah penurunan massa tulang sering peningkatan umur , yang dihubungkan dengan peningkatan kerentanan fraktur. Tetesan pasca menopause dalam kadar ekstrogen menyebabkan tulang yang tua lebih cepat rapuh daripada tulang baru yang dibentuk. Hal ini menyebabkan tulang secara perlahan menjadi tipis.

 Ekstrogen diperlukan untuk mengubah vitamin D menjadi kalsitonin yang esensial dalam absorpsi kalsium oleh usus halus. Penurunan absorpsi kalsium , juga penipisan tulang , membuat wanita pascamenopause beresiko mengalami masalah yang berhubungan dengan osteoporosis .

c. Penyakit jantung koroner
Walaupun penyakit jantung koroner merupakan penyebab utama kematian pada wanita di Amerika , penelitian yang dirancang dengan baik dalam sekala besar belum dilakukan pada wanita.

Wanita pasca menopause beresiko penderita penyakit arteri koroner karena wanita mengalami penurunan kadar  kolesterol lipoprotein densitas tinggi (hight-density lipoprotein [HDL] ) dalam serum sekaligus peningktan kadar lipoprotein densitas rendah ( low-density lipoprotein [LDL] ). Terapi penggantian estrogen ( estrogen replacement therapy ( ERTI ) memperlambat proses ini
(Bobak, 2005)

D. Fokus Pengkajian Menopause

Pengkajian yang dilaksanakan pada pasien dengan gangguan masa klimakterium selain pengkajian secara umum juga dilakukan pengkajian khusus yang ada hubungannya dengan gangguan masa klimakterium yang meliputi :

1. Haid
a. Menarche
Makin dini menarche timbul, makin lama menopause terjadi, begitu pula sebaliknya
b. Dismenore
Banyak wanita yang merasakan kesehatan lebih baik setelah menopause dibandingkan sebelumnya.

2. Riwayat penyakit dan pembedahan
Menopause artifisial dapat terjadi lebih dini bila ovarium diangkat secara bedah atau mengalami kerusakan akibat radiasi.

3. Riwayat obstetri
a. Kehamilan
b. Abortus
c. Pemakaian obat kontrasepsi

4. Riwayat perkawinan

5. Kebiasaan hidup sehari-hari
a. Istirahat
b. Pola kegiatan
c. Diet

6. Penyakit yang pernah diderita

7. Pengetahuan pasien dan keluarga tentang:
a. masalah yang sedang dialami,
b. informasi yang diketahui pasien tentang menopause,
c. persepsi tentang pengalaman stres,
d. siapa yang dapat diandalkan untuk tempat bergantung dan meminta bantuan,
e. jenis ketrampilan koping pasien.

8. Keluhan-keluhan yang sedang dialami

Baca juga : Diagnosa Keperawatan Gangguan Rasa Nyaman Nyeri

Selamat belajar


Penggunaan Alat Bantu Jalan dan Indikasinya

A. Alat Bantu Jalan

Alat bantu jalan  yaitu alat yang di gunakan untuk membantu klien supaya dapat berjalan dan bergerak,
(suratun dkk,2008)

Alat bantu jalan merupakan sebuah alat yang dipergunakan untuk memudahkan klien dalam berjalan agar terhindar dari resiko cidera dan juga menurunkan ketergantungan pada orang lain

Alat bantu jalan pasien adalah alat bantu jalan yang digunakan pada penderita/pasien yang mengalami penurunan kekuatan otot dan patah tulang pada anggota gerak bawah serta gangguan keseimbangan.
(kozier barbara dkk, 2009)

B. Macam-Macam Alat Bantu

1. Tongkat

penggunaan alat bantu


Tongkat adalah  alat yang ringan, dapat dipindahkan, setinggi pinggang dan terbuat dari kayu atau logam.

a. Tipe tongkat:
  • Tongkat standar yang berbentuk lurus, tongkat standar mempunyai panjang 91 cm. 
  • Tongkat kaki tiga 
  • Tongkat kaki empat.
(kozier barbara dkk, 2009)

b. Persyaratan tongkat meliputi:
  • Ujung tongkat yang mengenai lantai diberi karet setebal 3,75 cm untuk memberi stabilitas optimal pada klien.
  • Ukuran tongkat setinggi pangkal paha
  • Siku klien dapat defleksi (pembelokan) diatas tongkat kira-kira 25-300 

(suratun dkk,2008)

c. Tujuan mobilisasi
  • Mempertahankan tonus otot
  • Meningkatkan peristaltik usus sehingga mencegah obstipasi
  • Memperlancar peredaran darah
  • Mempertahankan fungsi tubuh
  • Mengembalikan pada aktivitas semula

(suratun dkk,2008)

d. Tekhnik berjalan dengan tongkat:
  • Cuci tangan untuk mengurangi transmisi organisme
  • Jelaskan prosedur dan tujuan dilakukan tindakan tersebut pada klien
  • Gunakan tongkat pada sisi tubuh klien yang terkuat
  • Jelaskan pada klien untuk memegang tongkat dengan tangan yang sehat
  • Klien mulai melangkah dengan kaki yang terlemah, bergerak maju dengan tongkat, sehingga berat badan klien terbagi antaratongkat dan kaki yang terkuat
  • Kaki yang terkuat maju melangkah setelah tongkat, sehingga kaki terlemah dan berat badan klien disokong oleh tongkat dan kaki terkuat.
  • Berjalanlah disisi bagian tungkai klien yang lemah. Klen kemungkinan jatuh ke arah bagian tungkai yang lemah tersebut.
  • Ajak klien berjalan selama waktu atau jarak yang telah ditetapkan dalam rencana keperawatan.
  • Jika klien kehilangan keseimbangan atau kekuatannya dan tidak segera pulih, masukkan tangan anda keketiak klien, dan ambil jarak berdiri yang luas untuk mendapatkan dasar tumpuan yang baik. Sandarkan klien pada pinggul  andasampai tiba bantuan, atau rendahkan badan andadan turunkan klien secara perlahan ke lantai
  • Dokumentasikan kemajuan klien.

(kozier barbara dkk, 2009)

2. Kruk

penggunaan alat bantu


Kruk yaitu tongkat atau alat bantu untuk berjalan, biasanya digunakan secara berpasangan yang di ciptakan untuk mengatur keseimbangan pada saat akan berjalan.
(suratun dkk,2008)

a. Indikasi penggunaan kruk
  • Pasca amputasi kaki
  • Hemiparese
  • Paraparese
  • Fraktur pada ekstremitas bawah
  • Terpasang gibs
  • Pasca pemasangan gibs

(suratun dkk,2008)

b. Kontra Indikasi
  • Penderita demam dengan suhu tubuh lebih dari 37o C.
  • Penderita dalam keadaan bedrest.

c. Manfaat Penggunaan Kruk
  • Memelihara dan mengembalikan fungsi otot.
  • Mencegah kelainan bentuk, seperti kaki menjadi bengkok.
  • Memelihara dan meningkatkan kekuatan otot.
  • Mencegah komplikasi, seperti otot mengecil dan kekakuan sendi. 

(suratun dkk,2008) 


d. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam menggunakan kruk
  • Perawat atau keluarga harus memperhatikan ketika klien akan menggunakan kruk.
  • Monitor klien saat memeriksa penggunaan kruk dan observasi untuk beberapa saat sampai problem hilang.
  • Perhatikan kondisi klien saat mulai berjalan.
  • Sebelum digunakan, cek dahulu kruk untuk persiapan.
  • Perhatikan lingkungan sekitar.

(suratun dkk,2008)

e. Tujuan Penggunaan Kruk
  • Meningkatkan kekuatan otot,
  • pergerakan sendi dan kemampuan mobilisasi
  •  Menurunkan resiko komplikasi dari mobilisasi
  • Menurunkan ketergantungan pasien dan orang lain
  • Meningkatkan rasa percaya diri klien

(suratun dkk,2008)

f. Fungsi Kruk
  •  Sebagai alat bantu berjalan.
  • Mengatur atau memberi keseimbangan waktu berjalan.
  • Membantu menyokong sebagian berat badan klien

g. Tekhnik penggunaan kruk
  • Pastikan panjang kruk sudah tepat
  • Bantu klien mengambil posisi segitiga, posisi dasar berdiri menggunakan kruk sebelum mulai berjalan.
  • Ajarkan klien tentang salah satu dari empat cara berjalan dengan kruk
  • Perubahan empat titik atau cara berjalan empat titik memberi kestabilan pada klien, tetapi  memerlukan panahanan berat badan pada kedua tungkai. Masing-masing tungkai digerakkan secara bergantian dengan masing-masing kruk, sehingga sepanjang waktu terdapat tiga titikdukungan pada lantai
  • Perubahan tiga titik atau cara berjalan tiga titik mengharuskan klien menahan semua beratbadan pada satu kaki. Berat badan dibebankan pada kaki yang sehat, kemudian pada kedua krukdan selanjutnya urutan tersebut diulang. Kaki yang sakit tidak menyentuh lantai selama fase dini berjalan tiga titik. Secara bertahap klien menyentuh lantai dan semua beban berat badan bertumpu pada 
  • Cara berjalan dua titik memerlukan sedikitnya pembebanan berat badan sebagian pada masing-masing kaki. Kruk sebelah kiri dan kaki kanan  maju bersama-sama. Kruk sebelah kanan dan kaki kiri maju bersama-sama.
  • Cara jalan mengayun  ke kruk ( swing to gait), klien yang mengalami paralisi tungkai dan pinggul dapat menggunakan cara jalan mengayun ini. Penggunaan cara ini dalam jangka waktu yang lama dapat mengakibatkan atrofi otot yang tidak terpakai. Minta klien untuk menggerakkan kedua kruk kedepan  secara bersamaan.pindahkan berat badan kelengan dan mengayun melewati kruk.
  • Cara jalan mengayun melewati kruk ( swing throughgait)
  • Cara jalan ini sangat memerlukan ketrampilan,kekuatan dan koordinasi klien. Minta klien untuk menggerakkan kedua kruk kedepan secara bersamaan. Pindahkan berat  badan ke lengan dan mengayun melewati kruk.
  • Ajarkan klien menaiki dan menuruni tangga

Naik:
  • Lakukan posisi tiga titik
  • Bebankan berat badan pada kruk
  • Julurkan tungkai yang tidak sakit antara kruk dan anak tangga
  • Pindahkan beban berat badan dari kruk ketungkai yang tidak sakit 
  • Luruskan kedua kruk dengan kaki yang tidak sakit diatas anak tangga 

Turun:
  • Bebankan berat badan pada kaki yang tidak sakit 
  •  Letakkan kruk pada anak tangga dan mulai memindahkan berat badan pada kruk, gerakkan kaki yang sakit kedepan 
  • Luruskan kaki yang tidak sakit pada anak tangga dengan kruk 
  • Ajarkan klien tentang cara duduk di kursi dancara beranjakdari kursi.

Duduk:
  • Klien diposisi tengah depan kursi dengan aspek posterior kaki menyentuh kursi
  • Klien memegang kedua kruk dengan tangan berlawanan dengan tungkai yang sakit. Jika kedua tungkai sakit kruk ditahan dan pegang pada tangan klien yang lebih kuat
  • Klien meraih tangan kursi dengan tangan yang lain dan merendahkan tubuh kekursi

Bangun:
  • Lakukan tiga langkah di atas dalam urutan sebaliknya.
  •  Cuci tangan
  • Catat cara berjalan dan   prosedur yang diajarkan serta kemampuan klien untuk melakukan cara berjalan dalam catatan perawat.

(suratun dkk,2008)

3. Kursi Roda 

penggunaan alat bantu1
Ada dua tipe kursi roda yaitu kursi roda manual dan listrik. Kursi roda listrik merupakan kursi roda yang digerakkan dengan motor listrik biasanya digunakan untuk perjalanan jauh bagi penderita cacat atau bagi penderita cacat ganda sehingga tidak mampu untuk menjalankan sendiri kursi roda, untuk menjalankan kursi roda mereka cukup dengan menggunakan tuas seperti joystick untuk menjalankan maju, mengubah arah kursi roda belok kiri atau belok kanan dan untuk mengerem jalannya kursi roda.

Biasanya kursi roda listrik dilengkapi dengan alat untuk mengecas/mengisi ulang aki/baterainya yang dapat terus dimasukkan dalam stop kontak dirumah/bangunan yang dikunjungi.

Kursi roda  manual memiliki bentuk lipat atau rangka kaku.  kursi roda digerakkan dengan tangan si penderita cacat, merupakan kursi roda yang biasa digunakan untuk semua kegiatan. Kursi roda manual dapat dioperasikan dengan bantuan orang lain maupun oleh penggunanya sendiri. Kursi roda seperti ini tidak dapat dioperasikan oleh penderita cacat yang mempunyai kecacatan ditangan
(wikipedia.com)


a. Hal-hal yang harus diperhatikan:
  • Tentukan ukuran tubuh klien
  • Tentukan kemampuan klien intuk mengikuti perintah
  • Kekuatan otot dan pergerakan sendi klien, 
  • Adanya paralisis.  

(kozier barbara dkk,2009)

b. Indikasi penggunaan kursi roda:
  • Paraplegia
  • Tidak dapat berjalan atau tirah baring
  • Pada pelaksanaan prosedur tindakan, misal klien akan foto rontgen
  • Pasca amputasi kedua kaki
(suratun dkk,2008)

c. Penatalaksanaan:
  • Cuci tangan untuk mengurangi transmisi organisme
  • Jelaskan prosedur pelaksanaan
  • Rendahkan posisi tempat tidur pada posisi terendah sehinggaa kaki klien dapat menyentuh lantai. Kunci semua roda tempat tidur
  • Letakkan kursi roda sejajar dan sedekat mungkin dengan tempat tidur. Kunci semua roda dari kursi roda. Bantu  klien pada posisi duduk di tepi tempat tidur
  • Kaji adanya hipotensi ssebelum memindahkan klien dari tempat tidur
  • Ketika klien turun dari tempat tidur, perawat harus berdiri tepat dihadapannya dan klien meletakkan tangannya dipundak perawat. Selanjutnya, perawat meletakkan tangannya dipinggang klien.
  • Sementara klien mendorong badannya keposisi berdiri, perawat membantu mengangkat bagian atas tubuh klien.
  • Klien dibiarkan berdiri selama beberapa detik untuk memastikan tidak adanya pusing 
  • Perawat tetap berdiri menghadap klien lalu memutar tubuh klien sehingga membelakangi kursi  roda. Setelah itu, perawat memajukan salah satu kakinya dan memegang kedua lutut untuk menjaga keseimbangan, kemudian membantu klien untuk duduk di kursi roda.
(suratun dkk,2008)

4. Walker Kruk

penggunaan alat bantu2

Walker ditujukan bagi klien  yang membutuhkan lebih banyak bantuan  dari yang bisa diberikan oleh tongkat. Tipe standar walker terbuat dari alumunium yang telah dihaluskan. Walker mempunyai empat kaki dengan ujung dilapisi karet dan pegangan tangan yang dilapisi plastik. Walker standar membutuhkan kekuatan parsial pada kedua tangan dan pergelanga tangan; ekstensor siku yang  kuat, dan depresor bahu yang kuat pula. Selainitu klien juga harus mampu menahan setengahberat badan pada kedua tungkai. Walkker dengan empat roda atau walker beroda tidak perlu diangkat ketika hendak bergerak, namun walker jenis ini kurang stabil dibandingkan dengan walker jenis standar. Beberapa jenis walker beroda mempunyai tempat duduk pada bagian belakang sehingga klien dapat duduk untuk istirahat jika diinginkan.

Walker jenis lain mempunyai dua ujung karet dan dua roda. Klien memiringkan walker,mengangkat ujung karet sementara rodanya tetap di permukaan tanah, kemudian mendorong walker tersebut kearah depan.

Perawat mungkin harus menyesuaikan tinggi walker sehingga penyangga tangan berada dibawah pinggang klien dan siku klien agak fleksi. Walker yang terlalu rendah dapat menyebabkan klien membungkuk, sementara yang terlalu tinggi dapat membuat klien tidak dapat meluruskan lengannya.

Cara penggunaan walker kruk
a. Ketika klien membutuhkan bantuan maksimal.
  • Gerakkan walker kedepan  kira-kira 15cm sementara berat badan bertumpu pada kedua tungkai
  • Kemudian gerakkan kaki kanan hingga mendekakti walker sementara berat badan dibebankan pada tungkai kiri dan kedua tangan.
  • Selanjutnya, gerakkan kaki kiri hingga mendekati kaki kanan sementara berat badan bertumpu pada tungkai kanan dan kedua lengan.

b. Jika salah satu tungkai klien lemah
  • Gerakkan tungkai yang lemah kedepan secara bersamaan sekitar 15 cm (6 inchi) sementara berat badan bertumpu pada tungkai yang kuat
  • Kemudian, gerakkan tungkai yang lebih kuat ke depan sementara beratbadan bertumpu pada tungkai lemah dan kedua lengan.



BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Mobilisasi merupakan kebutuhan manusia untuk melakukan aktivitas karena aktivitas dilakukan secara bebas dari satu tempat ke tempat yang lain.
Alat bantu merupakan sebuah alat yang digunakan untuk memudahkan klien berjalan agar menurunkan ketergantungan pada orang lain.
B. Saran
Setelah dilakukan seminar ini hendaknya mahasiswa dan masyarakat mengetaui dan menggunakan alat bantu disesuaikan dengan indikasi dan kontra indikasi dari alat  tersebut.

Baca juga: Kenali Penyebab dan Gejala Penyakit Ginjal

DAFTAR PUSTAKA


Suratun dkk. Klien Gangguan Sistem Muskuloskeletal. 2008. EGC. Jakarta
Barbara, Kozier dkk. Buku Ajar Praktik Keperawatan Klinis Kozier & ERB, Edisi 5. 2009. EGC. Jakarta

Diagnosa Askep Pasien Post Operasi Tumor Mamae Dextra (TMD)

Diagnosa Askep Pasien Post Operasi Tumor Mamae Dextra (TMD)


ANALISA DATA
TGL/JAM
DATA FOKUS
PROBLEM
ETIOLOGI
28/4/13
17.00
DS:
P: Pasien mengatakan nyeri pada luka operasi
Q: Rasa nyeri seperti tertusuk tusuk
R: nyeri pada mamae kanan
S  : Skala nyeri 7
T: nyeri akan bertambah jika untuk bergerak
DO:
· Pasien tampak meringis kesakitan
· Pasien terlihat berkeringat dingin
· Pada abdomen tampak luka operasi
DS:
· Pasien mengatakan tidurnya sering terganggu karena nyeri
DO:
·    Kantung mata pasien tampak menebal
·    Pasien tampak sering menguap




DS : -
DO:
·    terdapat luka post op pada mamae dextra
·    WBC 12,0


Nyeri akut










Gangguan pola tidur







Resiko tinggi infeksi


Insisi bedah










Gangguan rasa nyaman nyeri







Terbukanya pintu masuk mikroorganisme


Diagnosa Keperawatan:
1.      Nyeri akut b.d Insisi bedah
2.      Gangguan pola tidur b.d  gangguan rasa nyaman nyeri
3.      Resiko tinggi infeksi b.d Terbukanya pintu masuk mikroorganisme




RENCANA TINDAKAN

TGL/ Jam
DX
Tujuan dan Kriteria Hasil
Intervensi
Rasional
28/4/13
18.00


































28/4/13
18.05



















28/4/13

















I



































II




















III












Setelah dilakikan tindakn keperawatan tindakan 2x24 jam nyeri diharapkan dapat berkurang dan teratasi dengan kriteria:
·         Skala nyeri berkurang menjadi 0-2
·         Pasien terlihat rileks
·         Melaporkan Nyeri hilang / terkontrol
























setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x 24 jam pola tidur pasien kembali normal
Kriteria hasil:
·       Pasien melaporkan terjadi perbaikan dalam pola tidurnya
·       Pasien mengungkapkan adanya peningkatan perasaan sejahtera dan segar










Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam tidak terjadi infeksi ditandai dengan:
·         Tidak terdapat(tanda tanda infeksi)bengkak,panas,kemerahan,fungtiolaesa
·         TTV:
o  Td : 120/70 mmHg
o  N: 80x/mnt
o  RR: 20x/mnt
o  T: 36,50 C

1.      Selidiki keluhan nyeri, perhatikan lokasi, intensitas (skala 0-10) dan faktor pemberat.

2.      Pantau viatl sign.









3.      Kaji insisi bedah, perhatikan edema,perubahan conter luka (pembetukan heatoma)atau inflamasi mengeringnya tepi luka.

4.      Berikan posisi yang nyaman untuk pasien





5.      Anjurkan pasien untuk melaporkan nyeri segera saat mulai.





6.      Berikan analgesic sesuai indikasi



1.      Tentukan kebiasaan tidur pasien biasanya dan perubahan yang terjadi pada tidur pasien

2.      Berikan tempat tidur yang nyaman

3.      Tingkatakan regimen kenyamanan waktu tidur masase,segelas susu hanagat pada waktu tidur.

4.      Instruksikan tindakan relaksasi.

5.      Kurangi kebisingan dan lampu
6.      Dorong posisi nyaman,

7.      Hindari mengganggu bila mungkin(mis membangunkan untuk obat atau terapi)


8.      Berikan sedatif hipnotif sedatif sesuaiindikasi

1.      Awasi tanda-tanda vital. Perhatikan demam, dan menggigil
2.      Lakukan pencucian tangan yang baik dan perawatan luka aseptic
3.      Lihat insisi dan balutan.catat karakteristik drainase luka/drain




4.      Pertahankan perawatan luka aseptic,pertahankan agar balutan  tetap kering.



5.      Berikan antibiotik sesuai indikasi
·         Nyeri insisi bermakna pada paska operasi awal, diperberat oleh pergerakan, dan juga batuk,

·         Respon autonemik meliputi perubahan pada tekanan darah ,nadi dan pernafasan yang berhubugan dengan keluhan penghilang nyeri . abnormalitas vital sign terus menerus memerlukan evaluasi lanjut.

·         Memberikan dukungan relaksasi, dan juga memfokuskan ulang perhatian, meningkatkan rasa control dan kemampuan koping.

·         Mengontrol atau mengurangi nyeri untuk meningkatkan istirahat dan meningkatkan kerjasama dengan cara terapeutik

·         Perdarahan pada jaringan, bengkak, inflamasi lokal atau terjadinya infeksi dapat menyebabkan timbulnya peningkatan nyeri pada luka
·          Pemberian analgetik dapat berguna untuk  membantu mengurangi nyeri pasien

·         mengkaji perlunyadan mengidentifikasi intervensi yang tepat
·         meningkatkan kenyamanan tidur pada pasien serta dukungan fisiologis
·         Meningkatakan efek relaksasi pada diri psien



·         Membantu menginduksi tidur

·         Memberikan situasi yang kondusif untuk tidur pasien
·         Membantu mengurangi nyeri
·         Tidur tanpa gangguan lebih menimbulkan rasa segar,dan pasien mungkin tidak mampu kembali tidur bila tebangun
·         membantu pasien tidur atau istirahat

·         Dugaan adanya infeksi

·         Menurunkan resiko penyebaran bakteri

·         Memberikan deteksi dini akan terjadinya proses infeksi dan pengawasan penyembuhan.

·         Kultur pewarnaan gram dan juga sensitivitas bakteri berguna untuk mengidentifikasi organisme penyebab dan pilihan terapi
·         Membantu menurunkan jumlah organisme yang telah ada pada infeksi sebelumnya



IMPLEMENTASI

Tgl/jam
dx
implementasi
respon
ttd
28/14/13
19.00

19.30


20.30

21.00


21.30

22.10

23.00

23.00

23.30

23.55

29/4/13
01.30
04.00





06.00

07.00

08.30

09.00



10.30

11.30

12.00


13.30

15.00

17.00

18.00





20.00

21.00



21.30
22.00

22.30

23.00


00.00
I


II


II


III

II

I

I

III

II

II

II

I,III





I

II

III

I

II

I

III

I,III


I

II

III

I,II







menyelidiki keluhan nyeri, perhatikan lokasi, intensitas

memantau viatl sign.


Menentukan kebiasaan tidur pasien biasanya dan perubahan yang terjadi pada tidur pasien

Mengawasi tanda-tanda vital.Perhatikan demam,menggigil

Tingkatakan regimen kenyamanan waktu tidur masase,segelas susu hangat pada waktu tidur.
Memberikan posisi senyaman mungkin untuk pasien
Memberikan ketorolac

Memberikan Cefotaxim

Memberikan tempat tidur yang nyaman

Menganjurkan pasien untuk istirahat

Tidak mengganggu pasien istirahat

Mengkaji ttv





Memberikan posisi senyaman mungkin untuk pasien
Mengwasi tanda-tanda vital.Perhatikan demam,menggigil

Mencucian  tangan yang baik dan perawatan luka aseptic
Memberikan injeksi ketorolac

Memberikan injeksi cefotaxim

Menganjurkan pasien untuk melaporkan nyeri segera saat mulai.

Mempertahankan balutan kering.

Mengkaji TTV


Memberikan posisi yang nyaman
untuk pasien
Menentukan kebiasaan tidur biasanya dan perubahan yang terjadi

Mempertahankan perawatan luka aseptic,pertahankan balutan kering.
Mengkaji TTV





Memberikan tempat tidur yang nyaman

Meningkatakan regimen kenyamanan waktu tidur masase,segelas susu hangat pada waktu tidur.
Instruksikan tindakan relaksasi.

Mengurangi kebisingan dan lampu

Mendorong posisi nyaman,

Menganjurkan pasien untuk istirahat


Menghindari mengganggu




CATATAN PERKEMBANGAN

Tgl/jam
DX
EVALUASI
TTD
29/4/13
19.00















































30/4/13
19.00





I






















II












III












I






















II











III
S:
P: Pasien mengatakan masih nyeri pada luka operasi
Q: Rasa nyeri seperti tertusuk tusuk
R: nyeri pada mamae kanan
S  : Skala nyeri 6
T: nyeri akan bertambah jika untuk bergerak
O:
Wajah pasien meringis menahan nyeri
TTV:
td:140/90 mmHg
N :88x/mnt
RR :22/ mnt
T: 37,00 C
A:
Masalah nyeri belum teratasi
P:
Lanjutkan intervensi:
1.      Selidiki keluhan nyeri, perhatikan lokasi, intensitas (skala 0-10) dan faktor pemberat.
2.      Pantau vital sign.
3.      Berikan posisi yang nyaman untuk pasien
4.      Anjurkan pasien untuk melaporkan nyeri segera saat mulai.
5.      Berikan analgesic sesuai indikasi


S:
Pasien mengatakan masih sering terbangun di malam hari
O:
·         Pasien masih terlihat mengantuk
·         Kantung mata pasien terlihat menebal
A:
Masalah gangguan pola tidur belum teratasi
P:
Lanjutkan intervensi
1.      Tentukan kebiasaan tidur pasien biasanya dan perubahan yang terjadi pada tidur pasien
2.         Berikan tempat tidur yang nyaman
3.         Instruksikan tindakan relaksasi.

S:
ps mengatakan pada luka terasa nyeri
O:
·         Terdapat luka post op pada mamaedextra
·          WBC : 12,0
A:
Masalah resti infeksi belum teratasi
P:
Lanjutkan  intervensi
          1.          Awasi tanda-tanda vital.Perhatikan demam,menggigil
          2.          Lakukan pencucian tangan yang baik dan perawatan luka aseptic
          3.          Pertahankan perawatan luka aseptic,pertahankan balutan kering.
          4.          Berikan antibiotik sesuai indikasi
S:
P: Pasien mengatakan masih nyeri pada luka operasi
Q: Rasa nyeri seperti tertusuk tusuk
R: nyeri pada mamae kanan
S  : Skala nyeri 4
T: nyeri akan bertambah jika untuk bergerak
O:
Wajah pasien meringis menahan nyeri
TTV:
td:130/80 mmHg
N :88x/mnt
RR :22/ mnt
T: 37,00 C
A:
Masalah nyeri  teratasi sebagian
P:
Lanjutkan intervensi:
1.      Selidiki keluhan nyeri, perhatikan lokasi, intensitas (skala 0-10) dan faktor pemberat.
2.      Pantau vital sign.
3.      Berikan posisi yang nyaman untuk pasien
4.      Anjurkan pasien untuk melaporkan nyeri segera saat mulai.
5.      Berikan analgesic sesuai indikasi

S:
Pasien mengatakan sudah bisa tidur di malam hari
O:
·         Pasien masih terlihat mengantuk
·         Kantung mata pasien terlihat menebal
A:
Masalah gangguan pola tidur teratasi sebagian
P:
Lanjutkan intervensi
1.      Tentukan kebiasaan tidur pasien biasanya dan perubahan yang terjadi pada pasien
2.      Berikan tempat tidur yang nyaman
3.      Instruksikan tindakan relaksasi.

S:
ps mengatakan pada luka terasa nyeri
O:
·         Terdapat luka post op pada mamaedextra
·          WBC : 11,0
A:
Masalah resti infeksi teratasi sebagian
P:
Lanjutkan  intervensi
       1.            Awasi tanda-tanda vital.Perhatikan demam,menggigil
          2.          Lakukan pencucian tangan yang baik dan perawatan luka aseptic
          3.          Pertahankan perawatan luka aseptic,pertahankan balutan kering.
          4.          Berikan antibiotik sesuai indikasi






EVALUASI
Tgl/jam
DX
EVALUASI
TTD
30/4/13
I























II












III








S:
P: Pasien mengatakan masih nyeri pada luka operasi
Q: Rasa nyeri seperti tertusuk tusuk
R: nyeri pada mamae kanan
S  : Skala nyeri 4
T: nyeri akan bertambah jika untuk bergerak
O:
Wajah pasien meringis menahan nyeri
TTV:
td:130/80 mmHg
N :88x/mnt
RR :22/ mnt
T: 37,00 C
A:
Masalah nyeri  teratasi sebagian
P:
Lanjutkan intervensi:
6.      Selidiki keluhan nyeri, perhatikan lokasi, intensitas (skala 0-10) dan faktor pemberat.
7.      Pantau vital sign.
8.      Berikan posisi yang nyaman untuk pasien
9.      Anjurkan pasien untuk melaporkan nyeri segera saat mulai.
10.  Berikan analgesic sesuai indikasi




S:
Pasien mengatakan sudah bisa tidur di malam hari
O:
·         Pasien masih terlihat mengantuk
·         Kantung mata pasien terlihat menebal
A:
Masalah gangguan pola tidur teratasi sebagian
P:
Lanjutkan intervensi
1.      Tentukan kebiasaan tidur Tentukan kebiasaan tidur pasien biasanya dan perubahan yang terjadi pada tidur pasien
2.      Berikan tempat tidur yang nyaman
3.      Instruksikan tindakan relaksasi.

S:
ps mengatakan pada luka terasa nyeri
O:
·         Terdapat luka post op pada mamaedextra
·          WBC : 11,0
A:
Masalah resti infeksi teratasi sebagian
P:
Lanjutkan  intervensi
         1.            Awasi tanda-tanda vital.Perhatikan demam,menggigil
          2.          Lakukan pencucian tangan yang baik dan perawatan luka aseptic
          3.          Pertahankan perawatan luka aseptic,pertahankan balutan kering.
          4.          Berikan antibiotik sesuai indikasi



Bagaimana proses pengkajiannya, baca di  Asuhan Keperawatan Post Operasi Tumor Mamae Dextra (TMD)

Selamat belajar.

Kategori

Kategori